Masjid Agung Demak Dan Jejak Para Sultan Dan Wali

Bila menyusuri sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa, nama kesultanan Demak tidak dapat di pisahkan. Ketika kerajaan Majapahit runtuh, Demak kemudian berkembang menjadi kesultanan yang kuat. Dengan dukungan para Walisongo, perkembangan Demak semakin pesat.

Peran para wali dalam Walisongo dalam melahirkan kesultanan Demak sangat besar. Dengan dukungan para wali, Raden Patah mengubah Demak dari sebuah kadipaten di bawah Majapahit menjadi sebuah kesultanan yang besar di pesisir utara tanah Jawa.

Kesultanan Demak merupakan pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Para Walisongo menjadikan Demak sebagai pusat dakwah Islam. Proses dakwah ini berlangsung pesat, bukan hanya karena faktor politik dari Sultan Demak, namun juga dari sisi budaya. Walisongo banyak menyebarkan Islam melalui budaya, sehingga proses dakwah berlangsung dengan mulus dan damai.

Sebagai pusat dakwah Walisongo, tentu banyak peninggalan bersejarah dari para wali. Bukan itu saja, peninggalan para wali ini kemudian menjadi tujuan dari wisata religi. Apa saja peninggalan dan jejak para wali dalam menyebarkan agama Islam di tanah Demak?

Masjid Agung Demak

Sumber: traverse.id

Peninggalan sejarah dari para Walisongo yang paling terkenal adalah Masjid Agung Demak. Letak masjid ini berada di Kauman, sebelah barat alun-alun kota Demak.

Masjid ini merupakan tempat berkumpul Walisongo untuk membicarakan berbagai masalah, baik soal agama dan pemerintahan, bersama dengan Sultan Demak. Diperkirakan Masjid Agung ini dibangun pada abad ke 15 masehi. Hal ini nampak dari simbol lukisan berupa bulus yang terletak di tengah tempat imam.

Gambar bulus ini merupakan Surya Sengkala Memet yang berbunyi Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Sedangkan gambar bulus bermakna kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka.

Jika mengunjungi masjid ini, akan menemui hal unik di dalamnya. Tiang-tiang utama masjid Demak terbuat dari kayu jati yang cukup besar. Masing-masing tiang, yang berjumlah 4, merupakan sumbangan dari para Wali, yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Diantara tiang utama tersebut terdapat keunikan dari tiang yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Konon, tiang itu tidak dibuat dari kayu jati utuh, namun tersusun dari tatal (potongan kayu) yang disatukan. Meski demikian, dengan karomah yang dimiliki Sunan Kalijaga, tiang tersebut tetap kuat dan kokoh sampai sekarang.

Selain tiang utama, pintu masjid juga memiliki kisah tersendiri. Pintu yang terbuat dari kayu jati ini disebut sebagai pintu bledek atau pitu petir. Pintu ini dibuat oleh Ki Ageng Sela. Salah satu karomah dari Ki Ageng Sela ini adalah mampu menaklukan petir. Jadi pintu bledek memang difungsikan sebagai penangkal petir, mengingat bangunan masjid ini cukup tinggi.

Pada pintu bledek juga terdapat ukiran ukiran cantik berbentu kepala naga. Ukiran ini merupakan candra sengkala yang berbunyi Naga Mukat Salira Wani, yang berarti tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi. Hanya saja pintu bledek ini telah dipindah dan disimpan di museum Masjid Demak yang terletak di samping masjid.

Dari bentuk bangunan, Masjid Agung Demak mempunyai arsitektur khas dan merupakan simbol dari ajaran Islam. Misalnya pada bagian atap. Bentuk atap masjid ini berundak 3 yang menggambarkan ajaran Islam yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Bisa juga diartikan Iman, Ilmu dan Amal. Rupa atap yang berundak tersebut juga merupakan akulturasi budaya Islam dengan Hindu.

Hasil akulturasi budaya tersebut membuat Masjid Agung Demak memiliki ciri khas, yang berbeda dengan bangunan masjid umumnya. Bentuk kubah dan pintu melengkung sebagai ciri khas masjid di Timur Tengah tidak nampak sama sekali. Yang ada adalah atap yang bersusun. Bentuk ini merupakan bentuk bangunan yang sangat di kenal di Indonesia, dari Aceh hingga Maluku.

Pada teras, atau disebut sebagai serambi Majapahit juga memiliki ciri khas tersendiri. Tiang serambi ini mempunyai hiasan berupa ukiran khas Majapahit. Hal ini wajar, sebab tiang tersebut merupakan hadiah dari raja Majapahit terakhir, yaitu Brawijaya V kepada Raden Patah, yang merupakan puteranya.

Makam Para Raja Demak

Sumber: travel.detik.com

Sisi lain dari Masjid Agung ini adalah adanya makam para raja Demak. Tokoh-tokoh utama kesultanan Demak banyak yang dimakamkan di tempat ini. Letak makam ada di belakang kompleks masjid. Makam para sultan kerajaan Demak terdapat di kompleks ini, yaitu Raden Patah (Sultan Demak I), Raden Pati Unus (Sultan Demak II) dan Raden Trenggono (Sultan Demak III). Selain itu juga terdapat makam Putri Campa. Seperti diketahui, putri Campa merupakan ibu dari Raden Patah.

Tokoh lain yang dimakamkan dikompleks ini adalah Syekh Maulana Maghribi. Namun untuk makam ini, terdapat beberapa versi. Ada yang meyakini makam sebenarnya ada di Cirebon. Namun ada juga yang menyebutkan makam Syekh Maulana Maghribi ada di Parangtritis, Bantul.

Syekh Maulana Maghribi sendiri dikenal pula sebagai Sunan Gresik. Sesepuh Walisongo ini mempunyai pengaruh besar pada kerajaan Islam di tanah Jawa. Dapat dikatakan dari keturunannya lahir raja-raja dari kerajaan Jawa Islam yang besar. Bahkan jika dirunut dari silsilah, Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam, juga mempunyai garis nasab dengan Syekh Maulana Maghribi.

Selain itu, dalam kompleks makam ini juga dimakamkan Arya Penangsang. Tokoh ini sangat kontroversial dan ambisius. Demi memuluskan ambisinya untuk menjadi raja di tanah Jawa, Arya Penangsang, yang berasal dari Jipang, putera dari Raden Patah, menyingkirkan saudaranya sendiri seperti Sunan Prawoto. Setelah berhasil menyingkirkan Sunan Prawoto, Arya Penangsang memindahkan kekuasaan Demak ke Jipang di daerah Blora.

Kekuasaan Arya Penangsang berakhir di tangan Danang Sutawijaya, yang mendapatkan dukungan dari Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Sejak saat itu, pusat kekuasaan berpindah ke Pajang. Namun sepeninggal Sultan Hadiwijaya, kekuasaan berpindah ke Mataram, yang didirikan oleh Danang Sutawijaya, yang kemudian bergelar Panembahan Senopati.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah perkembangan dan kerajaan Islam di Jawa ini bermula di Demak. Tak mengherankan, jika banyak orang yang berziarah ke tempat ini.

Situs Kolam Wudhu Masjid Agung Demak

Situs ini saat ini sudah tidak digunakan lagi. Meski demikian, keberadaannya masih terpelihara. Kolam wudhu ini berukuran 10 x 25 meter. Cukup besar sebagai kolam wudhu. Di kolam ini terdapat 3 batu dengan ukuran yang berbeda. Batu yang terbesar berdiri dengan tegak, namun 2 batu yang berukuran lebih kecil tergeletak bersama dengan batu hias lainnya.

Konon di kolam wudhu inilah Sultan pertama Demak, Raden Patah, bertemu dengan Hadiwijaya atau Joko Tingkir, yang kemudian menjadi Sultan Pajang. Pada saat itu Hadiwijaya masih menjadi abdi di kerajaan Demak.

Keberadaan Masjid Demak memang menyimpan sejarah yang luar biasa. Di sini, berbagai peristiwa besar bermula. Tokoh-tokoh besar berinteraksi di tempat ini. Dan begitu pentingnya masjid Agung Demak ini dalam sejarah Islam dan perkembangan berbagai kerajaan di Jawa, maka sangat pantas jika tempat ini dijadikan situs warisan budaya dunia yang perlu terus dipelihara.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *