Kuliner Khas Pati Yang Menggoyang Lidah

Di setiap daerah, tentu ada makanan khas. Di kabupaten Pati juga demikian. Banyak ragam kuliner yang tersedia dan patut untuk di coba jika anda berkunjung ke daerah ini.

Kota Pati merupakan kota pesisir dan kaya akan berbagai hasil pertanian. Karena itu kulinernya pun dipengaruhi keadaan alamnya. Tidak heran, jika di daerah ini terdapat kuliner khas yang terbuat dari hasil laut hingga olahan hasil pertanian/perkebunan. Ini nampaknya sesuai dengan slogan kabupaten Pati, “Bumi Mina Tani”.

Apa saja kuliner atau makanan khas yang ada di kota Pati yang patut dicoba? Berikut daftarnya:

Nasi/Sego Gandul

Ini merupakan kuliner paling khas dari kota Pati. Kuliner ini tersedia di sepanjang waktu. Banyak penjual nasi gandul dan masing-masing penjual mempunyai jam operasional yang berbeda-beda.

Nasi atau sego gandul merupakan makanan yang terdiri dari nasi dengan isian daging yang bisa dipilih seperti paru, daging, lidah atau hati, dan ditambah kuah dengan cita rasa khas. Selain itu, masih juga ditambah dengan gorengan seperti tempe goreng atau kerupuk.

Beberapa penjual nasi atau sego gandul yang cukup terkenal di kota Pati adalah:

  • Nasi gandul Pak Meled yang beralamat di Krajan Gajah Mati, Desa Gajahmati, Kecamatan Pati.
  • Nasi gandul Pak Sardi, yang beralamat di Panunggulan, Desa Gajahmati, Kecamatan Pati.
  • Nasi gandul H A Warsimin, yang beralamat di Jalan Roro Mendut, Semampir, Kabupaten Pati.

Jangan khawatir soal harga. Hampir semua nasi gandul cukup ramah di kantong.

Soto Kemiri

Konon, soto ini berasal dari desa Kemiri, salah satu desa di kota Pati. Desa ini dikenal dengan sebagai penghasil kemiri. Karena banyak terdapat kemiri, maka soto dari daerah ini juga menggunakan kemiri sebagai salah satu bumbunya. Resep soto yang menggunakan kemiri ini ternyata banyak disukai sehingga semakin lama semakin terkenal. Memang sampai saat ini, mayoritas penjual soto kemiri memang berasal dari desa Kemiri.

Dilihat dari bentuknya, soto kemiri termasuk minimalis. Semangkuk nasi diisi kecambah, seledri, bawang goreng dan daging ayam, dengan kuah soto santan encer, berbumbu kemiri dan berwarna kuning kunyit.

Terlihat sederhana dalam tampilan. Meski sederhana, soal rasa, tetap maknyuss. Hal ini karena perpaduan bumbu dan rempah yang pas. Sebagai gambaran, rasa soto kemiri adalah perpaduan antara gurih, asin dan manis yang berpadu.

Kalau ingin menikmati soto ini, datang saja ke tempat berikut:

  • Soto Kemiri Pak Cecep yang beralamat di Kaborongan Lor, kecamatan pati, Kabupaten Pati.
  • Soto Kemiri Lasdi Tarsan di Jl. Kembang Joyo No.83, Ngembleb, Kutoharjo, Kec. Pati, Kabupaten Pati.
  • Soto Kemiri Pak Kribo di Jl. Kiai Saleh, Kaborongan, Pati Lor, Kec. Pati, Kabupaten Pati.

Dan perlu diingat, porsi soto ayam kemiri ini kecil, jadi wajar jika anda menghabiskan beberapa porsi dalam sekali makan.

Bandeng Bakar Tanpa Duri Dan Bakso Bandeng

Sumber: Tribunnews.com

Salah satu produk unggulan dari Pati dari lahan perikanan adalah bandeng. Di kabupaten ini banyak terdapat tambak bandeng. Jadi sangat mudah mendapatkan jenis ikan ini.

Ikan bandeng mempunyai citarasa khas. Namun ikan ini memiliki banyak duri. Jika tidak hati-hati memakannya, bisa jadi duri bandeng dapat tertancap di lidah atau tenggorokan. Tapi tenang saja. Saat ini banyak penjual makanan berbahan ikan bandeng yang tanpa duri. Salah satu yang banyak disukai adalah bandeng bakar tanpa duri. Rasanya? Manis gurih yang memanjakan lidah.

Bukan hanya di bakar, atau digoreng crispy. Daging ikan bandeng juga diolah menjadi bakso. Tentu saja rasanya sangat berbeda dengan bakso daging sapi yang biasa ditemui.

Hidangan bandeng bakar/goreng tanpa duri dan bakso bandeng dapat dinikmati di:

  • Rindang 84, yang beralamat di Jl. A. Yani No.30, Winong, Kec. Pati, Kabupaten Pati.
  • Pondok Bandeng BaBe, yang beralamat di Jl. Penjawi 335A, Randukuning, Pati Lor, Kabupaten Pati.

Menikmati ikan bandeng di sini, lidah anda akan bergoyang.

Mangut Kepala Manyung

Sumber: MediaIndonesia.com

Dikenal sebagai sentra kerajinan kuningan, Juwana merupakan kota kecamatan yang ramai di kabupaten Pati. Bukan hanya kuningan, Juwana juga dikenal sebagai daerah pelabuhan ikan yang cukup besar di pantura. Karena itu, berbagai jenis ikan laut mudah didapat di kota ini.

Sesuai dengan daerah penghasil ikan laut, maka kuliner di Juwana juga banyak didominasi hasil laut. Salah satunya adalah mangut kepala manyung, kuliner legendaris dari Juwana.

Manyung adalah nama lain darii ikan pari. Ukuran ikan ini cukup besar. Dagingnya banyak diolah menjadi ikan asap yang jika diolah, menjadi santapan yang lezat. Selain dagingnya, kepala ikan pari juga diolah menjadi makanan khas, yang disebut dengan mangut kepala manyung.

Mangut kepala manyung adalah masakan dari kepala ikan pari (manyung) yang dimasak dengan santan dengan berbagai rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, cabai rawit hijau rebus, kemiri, kencur, kunyit, lengkuas, daun salam, daun jeruk, dan garam.

Dari penampilan, mangut kepala manyung memiliki kuah santan yang berwarna kuning. Soal rasa jelas gurih. Tapi awas, bagi yang punya masalah dengan rasa pedas, jangan coba masakan ini. Rasa pedas yang menyengat akan segera membakar lidah. Tapi meskipun pedas, rasa gurih dari daging kepala manyung tetap menagih.

Penasaran dengan rasanya? Kunjungi saja warung makan sederhana di depan polsek Juwana. Di sana ada warung yang dikelola oleh Ibu Marni dengan alamat Jl. Silugonggo, Kauman, Kec. Juwana, Kabupaten Pati.

Jika mencoba mangut kepala manyung, awas, kepedasan sekaligus ketagihan..

Sego Thewel Tambakromo

Sumber: Tribunnews.com

Jika kabupaten Pati bagian utara merupakan daerah pesisir, maka Pati bagian selatan merupakan daerah perbukitan. Perbedaan alam, juga membuat perbedaan kuliner khas. Salah satu yang khas dari Pati bagian selatan adalah sego thewel dari Tambakromo.

Sego berarti nasi, thewel adalah nangka muda. Jadi sego thewel adalah nasi yang disajikan dengan sayur nangka muda. Sayur ini berupa nangka muda yang dimasak dengan kuah santan.

Yang unik dari sego thewel ini adalah penyajiannya diatas piring yang dialasi dengan daun jati. Sajian demikian terlihat sangat tradisional. Tapi soal rasa, nyamleng pokoknya. Apalagi kuah tersebut berasa gurih pedas, sangat pas jika di temani dengan tempe goreng atau bakwan. Dan yang juga unik, tempe goreng yang digunakan adalah tempe yang digoreng sangat kering, sehingga terasa sangat renyah (kemripik (jawa)).

Rasa yang gurih pedas ini akan menagih. Karena itu banyak kemudian menambah porsinya. Dan jika anda menghabiskan beberapa porsi, jangan kaget ketika membayar. Murahnya sadiss…. Benar-benar murah.

Lalu, kemana jika ingin menikmati sego thewel. Pergilah ke Tambakromo, sekitar 10 km di sebelah selatan kota Pati. Di Tambakromo, banyak warung penjual sego thewel sepanjang waktu. Jadi jangan khawatir tidak akan menemukan sego thewel di sini, meski pada tengah malam sekalipun.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *